Jika promosi sekolah dengan fasilitas sarpras yang mahal.
Bagaimana dengan sekolah yang fasilitasnya terbatas?
Jika promosi sekolah dengan testimoni alumni.
Bagaimana dengan sekolah yang baru berdiri?
Cerita yang saya bagikan berikut ini, adalah solusi untuk menjawab kegelisahan di atas.
Tugas Mempromosikan Sekolah yang Baru Berdiri
Dulu saya alami kegelisahan ini, ketika menjadi guru di sekolah yang baru berdiri. Bagaimana memperkenalkan SMP Darul Ikhsan Pekalongan ke masyarakat umum. Bahan-bahan yang sudah ada dan bisa diolah adalah visi misi, fasilitas sekolah, juga profil para pendidiknya.
Poin yang memang menjadi pembeda besar kami dengan yang lain, SMP Darul Ikhsan adalah sekolah terintegrasi dengan Pondok Pesantren, difasilitasi proses belajarnya oleh para Ulama lulusan dari Yaman. Pondok Pesantren yang sudah berdiri lama juga telah melahirkan banyak Alumni. Namun untuk pendidikan formal, saat itu belum banyak yang bisa diceritakan.
Kegelisahan makin menguat ketika orangtua mulai berdatangan ingin bertanya lebih lanjut berkait proses pembelajaran sebelum mendaftar. Kami para guru lebih banyak bercerita dari sisi pembelajaran agama, kami belum bisa bercerita apa yang berbeda dengan SMP Darul Ikhsan dari sisi pembelajaran umum.
Pengelolaan Konten Media Sosial
Pembina pondok pesantren Alhabib Mahdi bin Abdullah Alatas kemudian mengajak saya mengelola media sosial. Beliau memberi ide dan mengajak membuat bersama konten berupa faedah dari kitab-kitab berupa nasehat, kutipan maupun petunjuk, yang sebisa mungkin sesuai konteks kebutuhan masyarakat. Misal, saat ramai berita hoax di media sosial, maka kami memposting faedah yang membahas tentang nasehat penyebaran berita.
Dari sini saya sering mendapat pelajaran dari beliau, bahwa jika konten itu bermanfaat, insyaallah banyak yang menyebarkan, jadi yang perlu dipikirkan, apakah kontennya memang bermanfaat.
Belajar dari aktivitas pembuatan konten faedah ini, saya mengaitkannya dengan apa yang dilakukan Komunitas Guru Belajar Pekalongan, para guru saling bercerita tentang pembelajaran di kelasnya.
Berbagi Best Practice (Praktik Baik) Pembelajaran di Medsos
Saya pun terpikir untuk mulai mengajak para guru di SMP Darul Ikhsan bercerita, dan saya jadikan konten media sosial. Mulailah saya merumuskan rubrik apa yang bisa muncul, misal Pak Dasuki yang mengampu pelajaran bahasa Inggris, selain bercerita tentang pembelajaran di kelasnya, juga membagikan idiom/nasehat dalam bahasa inggris.
Saya sendiri yang saat itu mengampu Bahasa Indonesia, membagikan konten penulisan yang baku. Cerita-cerita praktik pembelajaran bermakna pun kami bagikan, dari ice breaking, pemanfaatan board game, tiket bertanya yang membangun nalar kritis dan kemerdekaan di kelas dan lain sebagainya.
Agar semakin menarik kadang kami juga membuat konten parodi, seperti rubrik Danil 1991, yang merupakan plesetan Dilan 1990. Harapannya orang-orang melihat bahwa pengalaman belajar yang dibangun di SMP Darul Ikhsan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.
Gayung bersambut. Apa yang kami post di media sosial kemudian menjadi bahan obrolan para guru di Komunitas Guru Belajar Nusantara Pekalongan. Selain menceritakannya di instagram. Guru-guru SMP Darul Ikhsan juga berbagi cerita pembelajaran SMP Darul Ikshan di Temu Pendidik Daerah KGBN Pekalongan (https://boardgame.id/komunitas-guru-pekalongan-board-game/), acara belajar saat ramadan (Ramadan Street Learning), hingga saya dan Pak Dasuki menjadi narasumber di Pondok Pesantren lain di Kendal. (https://boardgame.id/guru-uztadz-main-board-game-kendal/ ).
Apa yang sudah dilakukan ternyata membantu masyarakat semakin mengenal SMP Darul Ikhsan, bahkan menjadi promosi dengan nilai tersendiri. Post kami di media sosial membuat orangtua murid menjadi tahu, proses pembelajaran seperti apa yang dialami anaknya.
Alih-alih sekadar memajang foto piala di media sosial, yang tidak bisa menggambarkan proses pembelajaran, dan hanya menunjukkan raihan kompetisi segelintir murid. Orangtua murid dan yayasan juga sumringah ketika berbicara tentang para guru yang menjadi narasumber kegiatan.
Bercerita tentang pengalaman menjadi narasumber di daerah saja, mendapat kepercayaan besar dari orangtua, hingga membangun image sekolah. Bagaimana jika guru menjadi narasumber acara nasional
Ada kesempatan besar nih untuk mencapainya!
Yuk daftar menjadi narasumber di Temu Pendidik Nusantara VII!
Lalu kabarkan ke masyarakat bahwa guru di sekolah menjadi narasumber acara nasional!
Daftar Sekarang!
Klik tpn.gurubelajar.org



Komentar
Posting Komentar